Feeds:
Pos
Komentar

tampil

Private Sub cmdbersih_Click()
Text1.Text =””
Text1.BackColor = vbWhite
Opbiru.Value = False
Opkuning.Value = False
Opungu.Value = False
End Sub

Private Sub cmdhijau_Click()
Text1.BackColor = vbGreen
End Sub

Private Sub cmdkeluar_Click()
End
End Sub

Private Sub cmdmerah_Click()
Text1.BackColor = vbRed
End Sub

Private Sub cmdpink_Click()
Text1.BackColor = RGB(245, 26, 216)
End Sub

Private Sub Opbiru_Click()
Text1.ForeColor = vbBlue
End Sub

Private Sub Opkuning_Click()
Text1.ForeColor = vbYellow
End Sub

Private Sub Opungu_Click()
Text1.ForeColor = RGB(64, 1, 59)
End Sub

Private Sub Text1_Click()
Text1.Text = “Nama dan NIM
Text1.FontSize = 20
Text1.Alignment = vbCenter
End Sub

Filosofi Logo Imaci

logo

1.Back ground hitam dapat diartikan bahwa berasal dari suatu yang tidak ada berusaha menjadi ada sebagai tempat berbagi informasi demi kemajuan bersama.
2.Lingkaran dengan lima garis memberikan arti bahwa IMACI diharapkan bisa tetap dalam lingkaran Pancasila dan tetap mengamalkannya dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.
3.Bintang berwarna biru melambangkan bahwa IMACI berusaha untuk menjadi yang terbaik, menjadi bintang dalam setiap bingkai kehidupan
4.Bermacam warna dalam tulisan IMACI merupakan suatu wujud kesadaran bahwa kita berasal dari latar belakang yang berbeda – beda dan berharap perbedaan merupakan khazanah bangsa Indonesia yang justru sebagai alat pemersatu satu sama lain.
5.Warna merah dalam tulisan BSI adalah wujud dari suatu keberanian dan semangat yang timbul setelah kita menjadi bagian dari keluaraga besar “Bina Sarana Informatika”
6.Makna dalam bentuk serta warna tulisan ini adalah IMACI selalu dinamis untuk maju dengan niat suci didalamnya

Sebuah Asa

Hari ini tepat tanggal 30 September 2008 yang merupakan hari terakhir mayoritas umat islam di Indonesia menunaikan ibadah puasa. Jam menunjukkan pukul 22.20 WIB saat aku keluar dari department store kusut tempat aku bekerja, di kawasan terminal Bekasi. Deru takbir membahana di sepanjang jalan Ir H. Juanda , suka cita menyambut hari kemenangan sangat terasa tercermin dari padatnya pusat-pusat perbelanjaan , antrian panjang mobil-mobil takbir keliling dan yang tak kalah menariknya yaitu taburan kembang api di langit Bekasi.

Tak sadar aku telah berada di halte tempat aku menunggu angkot yang kebanyakan orang bilang ¾ atau elf tujuan Cikarang. Banyak dari rekan kerja yang mengajakku untuk berlebaran di tempat mereka tetapi aku lebih memilih lebaran di Cikarang walaupun dikontrakan hanya seorang diri. Jujur ini lebaran pertamakaliku tanpa keriuhan keluarga dan justru karena aku sendirian aku berharap bisa mengambil hikmah dari semua ini. Aku tidak ingin ada orang yang tahu kalau aku gundah, sedih, merenung bahkan menangis disaat kebanyakan orang sedang dalam kemeriahan menyambut hari raya. Tidak ada opor ayam, kue-kue khas lebaran atau ketupat sekalipun, akan tetapi inilah seninya hidup ini, kita berbeda walaupun atas keterpaksaan.

Cibitung, Cikarang terakhir –terakhir yoo…….. (suara sopir tua dari dalam angkot dengan kumis lebat dan sebatang rokok yang terselip dijemari keriputnya itu membangunkanku dari lamunan. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk angkot tersebut , kebetulan baru ada dua penumpang di dalam angkot tersebut, sehingga memudahkanku untuk memilih tempat duduk. Aku memilih tempat duduk paling belakang tepatnya pojok kiri dari angkot tersebut dan tepat disebelahku duduk seorang nenek yang tampak begitu kelelahan. Terlihat dari raut wajahnya yang sudah pucat. Dalam hatiku pun bertanya “ini nenek darimana, udah malam begini masih berada dijalanan nggak punya keluarga pa!!” Seperti tahu yang aku pikir nenek itupun berkata “Jang (panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa sunda) nenek dari Bantargebang dari tempat cucu nenek, nanti kalau sudah sampe di SGC (Sentra Grosir Cikarang red.) tolong nenek dibangunin yah! Sekarang nenek mau tidur dulu”. i..iya nek jawabku, wah jangan jangan nenek ini adiknya peramal kondang Mama loren yang sering muncul di tv-tv itu, sebab mukanya juga agak kebule-bulean Cibarusah, bisikku dalam hati .

Sekitar sekitar 20 menit angkot jalan dari halte tadi, ku tolehkan mukaku ke kaca dengan maksud ingin tahu sudah sampe dimana ini. Terlihat jelas papan lusuh berukuran kira kira 2 x 1 meter bertuliskan Jl.Diponegoro Km.39 . seketika itu air mataku tak terasa jatuh ke sebuah plastic kresek yang sekalian menyadarkanku kalau aku sedang menangis. Dengan tepat kuamati sebuah gang disampingnya, entah apa nama gang tersebut namun gang itu aku namai gang pengharapan, karena hampir mayoritas orang yang masuk gang itu berhubungan erat dengan anggota keluarganya yang akan menjadi pahlawan devisa tepatnya menjadi TKI atau TKW. Ya… diujung gang tersebut ada sebuah penampungan TKI milik PT .Teja Mukti dengan hiasan kawat duri yang berlapis lapis yang tujuannya untuk menghindari calon TKI yang mau kabur akibat tidak tahan dengan keadaan di penampungan. Kurang lebih 3 minggu yang lalu kakakku sempat berada disitu sebelum akhirnya pada tanggal 24 September atau H-6 lebaran dia berangkat ke Taiwan dengan sejuta pengharapan. Ingin rasanya aku menjerit tapi ku yakin kalau hal itu ku lakukan pasti aku ditendang dari angkot tersebut karena dianggap gila.

Saat aku masih larut dalam lamunan tiba-tiba nenek itu membuatku kaget “Jang SGC masih jauh nggak?” Kutolehkan mukaku kearahnya seraya menjawab pertanyaannya “Wah masih jauh nek, ini aja baru nyampe di Cibitung” Nenek itu tidak berkata lagi dia justru memasukkan tangannya kedalam tasnya seperti mau mencari-cari sesuatu. Senyumnya merebak dan seperti lagu burung kakak tua gigi nenek itu juga tinggal dua, ternyata dia tersenyum karena sesuatu yang dicarinya sudah berada dalam genggamannya yaitu sebuah balsem.

Cikarang – Cikarang habis teriakan sopir tua itu membuatku bangun . Sialan baru aja aku tidur udah nyampe aja. Kulongokkan kepalaku ke jendela lalu kutengadahkan kepalaku keatas. Sebuah huruf balok dari plat besi tertempel di dinding dengan kokohnya bertuliskan SGC. Langsung aja aku bangunin nenek dengan bau khas kesayangannya itu, “nek.. nek.. dah nyampe Cikarang nek..!” mata keriputnya pelan – pelan terbuka sambil mengamati sekelilingnya dan spontan dia membentakku “Nenek kan mau turun di SGC bukan Cikarang, dasar anak sekarang taunya ngerjain orang tua aja!” Aduhhh nenek malah mau tidur lagi, aku coba bersabar kubangunkan lagi dia, iya nek ini sudah nyampe SGC nek” seperti orang kesetanan dia langsung bangun sambil membawa tas jinjingnya dan masih saja dia sempat ngomelin aku lagi “Ngomong atuh jang dari tadi..!uhh anak muda sekarang payah!”. Waduh nasib-nasib bukannnya dapet kenalan cewek bohay malah nenek rese’.

Akhirnya setelah kira-kira 20 menit aku sampe di tujuan sebuah kontrakan khas gaya pekerja di Cikarang. Aku raih sebuah kunci dari dalam saku dan segera pintu aku buka. Ku langkahkan kaki menuju sakelar yang letaknya dekat pintu masuk ruangan kedua. Betapa kagetnya aku setelah menghidupkan lampu, sebuah alat elektronik yang biasanya aku nyalakan ternyata tidak ada ditempatnya. Benda itu adalah sebuah televisi warna 14” . belum selesai rasa kagetku aku melihat selembar kertas diatas dispenser dengan tulisan tinta warna hitam yang isinya adalah

Untuk sahabat terbaikku

BARA

Assalamu’alaikum Wr Wb

Insya Alloh saat kamu baca surat ini aku sudah berada disebuah desa sunyi di pinggiran kota Padang pariaman. Beribu maaf aku ucapkan karena aku ngga’ bilang atau minimal sms kalau aku mau pulang kampung

Bersambung…….

Blog ini merupakan blog komunitas yang diharapkan menjadi “jembatan” komunikasi bagi kalangan ABG (Academic, Business & Government) di bidang ilmu pemrograman khususnya(Mahasiswa Bsi Cikarang kelas malam) untuk bekerjasama erat, bahu membahu dan berkesinambungan demi kemajuan bersama.